Etika Kebebasan

By: Benni E.Matindas | Vitamin | 20 Jan 2012, 10:29:34 | Dibaca: 3524 kali

Apakah bebas merupakan dasar dan awal segalanya baru kemudian keteraturan diadakan? Apakah kebebasan adalah kondisi umum, lantas di atas itu ada keteraturan sebagai kondisi khusus untuk bagian tertentu atau saat tertentu saja sesuai kebutuhan?

Pertanyaan itu mutlak penting. Kegagalan umat mematuhi etika Allah, dan gagal memiliki etos unggul, berpangkal dari persepsi keliru yang memandang kebebasan sebagai dasar lalu etika adalah beban yang kemudian dipikulkan. Begitu pula rancunya teori-teori ekonomi yang berdasar Falsafah Kebebasan; baik Neo-Liberalisme yang bebas penuh ala Friedrich von Hayek, Milton Friedman, maupun seperti Vaclav Havel yang merasa cukup dengan kebebasan di dasar, sedang aturan sosialisme tetap di atas dasar itu.

Sesungguhnya, keteraturan adalah dasar. Lalu di dalamnya, dan hanya melaluinya, kebebasan sejati dicapai. Penemuan-penemuan ilmu alam mutakhir pun membuktikan itu. Sederhana saja, kalau kita percaya Tuhan ada, dan Dia adalah Sang Mahaawal, tak logis untuk kita berpikir bahwa ketidakteraturan bebas liar adalah dasar dan awal segalanya.

Banyak penyebab kebanyakan orang bisa sampai terjungkir balik dalam hal logika yang kendati sesederhana itu. Kita antara lain dirancukan oleh sejarah masyarakat, dari kondisi alamiah state of nature dengan hukum rimba yang bebas liar lantas berevolusi ke tertib sosial dengan sistem hukum yang terus-menerus dikembangkan sampai ke segala aturan mendetail. Kita juga berpersepsi bahwa kebebasan adalah kondisi alamiah, yang menjadi hak dasar (asasi) manusia, yang mesti dikembalikan setelah lama dijajah dan dirampas para penguasa durjana. Padahal sebenarnya, segala kondisi keliru dan jahat itulah yang baru datang kemudian, dikendalikan oleh nafsu sesat yang menyalahgunakan kehendak bebas, datang merusak tatanan pemeliharaan Allah yang sempurna.

Kerancuan kita yang sampai membalikkan logika itu pun akibat persepsi mengenai kehendak bebas yang dianugerahkan Tuhan, yang di atasnya kemudian kita mengambil keputusan untuk semua langkah hidup kita ke depan. Padahal bebas berkehendak itu tak lain diberi-Nya agar pelaksanaan etika kita semakin optimal. Mirip dengan aktivitas fisik, bila dijalankan berdasar keputusan bebas, itu namanya olahraga yang memberi kesehatan. Tetapi jika tidak, itu adalah kerja paksa yang menyakitkan sekaligus membawa penyakit.

Di kalangan mereka yang suka mendasarkan pemikirannya pada filsafat, kerancuan logikanya itu bertambah dengan paling sedikit dua pengaruh kuat. Satu, filsafat yang merujuk pada Teori Chaos dalam ilmu alam. Dua, filsafat Paul Feyerabend. Padahal, para pembangun teori chaos justru sedang menyingkap betapa di dalam kondisi kacau terdapat hukum-hukum yang amat canggih. Sedang Filsafat Anarkhisme Pengetahuan dari Feyerabend itu tak boleh dipahami lebih dari kritiknya yang luar biasa tekun terhadap tradisi keilmuan dengan segala metodenya selama ini yang kaku dan tak memungkinkan terungkapnya banyak kebenaran yang ada. Sedang keteraturan adalah kebutuhan abadi. Bahkan untuk bikin gado-gado — kendati kata gado-gado sampai dijadikan kata kiasan untuk menunjuk segala campuran tak beraturan — orang toh harus tahu cara masaknya, berapa lama sayur direbus, ukuran dan perbandingan antara unsur-unsurnya.

Manusia pada dasarnya dalam ketidakbebasan. Bahkan Sartre tahu itu sehingga ia menyebutnya kutukan. Menurutnya kebebasan (kehendak-) manusia sedemikian bebasnya sehingga manusia tak memiliki kebebasan untuk memilih menjadi tak bebas.

Ya, kita dalam keteraturan. Sampai pada pengertian tertentu, keberadaan kita dalam keteraturan semesta itu mirip dengan yang sudah lama dijelaskan Lao Tze dengan prinsip Tao, juga Rousseau dengan penjelasan agak lain yang pula diikuti Kant.

Keteraturan kita dalam tata-Nya membuat kita bebas dari belenggu dosa, bebas dari perbudakan nafsu, bebas dari kekangan segala penyakit. Kebebasan dicapai melalui keteraturan. Bukan sebaliknya seperti Lucifer atau Adam dan Hawa saat ditipu Iblis. Bebas tanpa melalui ketaatan pada aturan, tetapi melalui pemberontakan, sebetulnya masuk pada aturan kendali dosa. Butuh Sang Pembebas, yang membawa aturan, tetapi ringan dan membebaskan [Mat 11:28-30].

Sumber: Majalah Bahana, Januari 2012

diggdel.icio.usfacebookredditstumbleuponTechnoratiYahoo Buzz!


Warta Populer


Layanan SMS

Untuk Renungan Malam
Ketik REG <spasi> REMA
Untuk Renungan Pagi
Ketik REG <spasi> REPA
Untuk Renungan Siang
Ketik REG <spasi> SIANG

Kirim ke:
Telkom (Flexi Classy, Trendy, Combo): 7363
XL (Jempol, Bebas, Explor): 7363

Untuk berhenti:
UNREG PAGI / SIANG / MALAM
& kirim ke nomor yang sama diatas

Khusus untuk TELKOMSEL
Ketik REG MALAM (atau SIANG, PAGI, MUDA)
Kirim ke 5454.
Untuk berhenti berlangganan, ketik UNREG MALAM (atau SIANG, PAGI, MUDA) ke 5454
*) Rp. 1000,- per SMS + PPN


Pengumuman

RALAT BAHANA cetak edisi November 2012
24 Okt 2012
Lowongan Penerbit Andi
15 Jun 2012
© Copyrigth @ CV. Andi Offset 2014
Contact: Online Devision
Jl. Beo 38-40
Yogyakarta, 55281
Indonesia
Tlp: 0274 545 465 ext. 204
ebahana.com v. 3.0.12.13